Repitition
Knowledge is a mental grasp of a fact of reality, reached either by perceptual observation or by a process of reason based on perceptual observation. Itu kutipan menarik dari satu bacaan yg gw dapat minggu kemarin dari Ayn Rand. Knowledge - Information - Repitition. Pengetahuan - Infomasi - Pengulangan, hal ini yg sedang jadi renungan gw beberapa hari ini.
Kita menyerap informasi dari semua panca indera yg kita miliki dari kecil hingga umur kita sekarang, memproses nya secara sistematis menjadi pengetahuan, dan dilakukan secara berulang2.
Pengulangan. Banyak yg berkata ini adalah inti dari pengetahuan. Bayi belajar untuk berdiri secara berulang hingga dia memiliki pengetahuan berdiri secara benar, seorang karateka mengulang jurus2 yg sama sehingga menjadi pengetahuan (kebiasaan), kita belajar berhitung & berkali secara berulang2 hingga menguasai nya secara benar, belajar mengendarai mobil dari mulai menekan rem hingga berkendara di jalan raya, seorang anak yg dilimpahi kasih sayang akan belajar ttg kasih sayang itu dan sebaliknya bila diberi kekerasan akan belajar ttg kekerasan dll.
Hal ini yg diadopsi oleh proses pendidikan untuk mengajarkan segala sesuatu secara berulang2 utk menanamkan suatu pengetahuan kepada muridnya. Sesuatu yg kemudian banyak dikritik oleh para konseptor pendidikan. Salah satu yg membahas masalah ttg pengulangan dalam kaitannya dengan Teori pengetahuan adalah John Dewey dalam bukunya Democracy and Education. Karya John Dewey ini terbit tahun 1916 dan memberi pengaruh yg sangat besar kepada sistem pendidikan di Amerika di kemudian hari. Satu informasi yg menarik bahwa buku ini masuk di urutan 5 dalam Ten Most Harmful Books of the 19th and 20th Centuries.
Apa yg salah sebenarnya dengan pengulangan? Gw melihat kontribusi terbesar dari pengulangan adalah menciptakan kebiasaan dan rutinitas. Gw pribadi berpendapat bahwa kebiasaan dan rutinitas cenderung untuk menempatkan seseorang dalam zona yg dibuatnya sendiri. Sering kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu masalah dari out of the box, dari luar sistem tersebut. Sebuah kreatifitas. Kreatifitas menurut gw adalah kemampuan seseorang utk keluar dari kebiasaan/rutinitas nya untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yg baru.
Pernah tidak kita begitu sulitnya menyelesaikan suatu puzzle dengan mencoba berbagai kombinasi dan kemudian diselesaikan dengan mudah oleh orang lain yg mencobanya; memikirkan bagaiman menyelesaikan suatu masalah hidup yg sepertinya tak terpecahkan dan kemudian diberi masukan yg applicable oleh seseorang ; berada di lingkungan pekerjaan dimana kita menemui orang2 di jajaran fast track karir sepertinya begitu mudah nya menemukan inovasi2 baru, pikiran atas perbaikan2 dalam sistem, ide2 segar, sedang dia berada dengan lingkungan kerja yg sama dengan yg kita jalani; perusahaan besar yg harus menyewa jasa konsultan ternama semacam Mckinsey, BCG, Booz Allen dengan biaya jutaan dollar utk meningkatkan kinerja perusahaannya? Apa kunci nya? Mereka menempatkan diri mereka diluar sistem, berpikir secara objektif dan muncul dengan ide2 baru.
Jadi mungkin ada yg perlu dikoreksi dengan sistem pendidikan negeri ini, sehingga menghasilkan pembuat2 kebijakan yg tidak mampu utk melihat dari luar kotak. Menyelesaikan masalah perkereta apian dengan membeli puluhan kereta baru dari jepang dibandingkan menyehatkan perusahaan dengan pembenahan sistem tiket-ing, Menyelesaikan masalah BBM dengan mengusahakan kontrak baru, pencarian ladang minyak baru dan peraturan penghematan dibandingkan memperbaiki kebocoran yg ada, Meributkan output SDM dengan qualifikasi hasil ujian pilihan berganda dibandingkan membuat masterplan pendidikan yg jelas dll.
Untuk apa semua itu? tentu saja untuk kehidupan negeri ini yg lebih baik. Mengutip kembali Ayn Rand "To a life which is a reason unto itself."