Archive for July, 2005

Our Wedding Anniversary

Sunday, July 31st, 2005

Papamamanajla_4 My wife,

Today is our 1rst Wedding Anniversary
On this special day
May dreams and love carry us
And never go away

May our hearts combine forever
in perfect harmony
As the days and nights are passing
Together we will be

Follow our hearts, follow our dreams
And never forget the day
our hearts joined as one
In that special, magical way

As now we have our precious gift in between
As if the answer for a special wish
I asked the lord to grant us
Lifelong happiness… The three of us

And on this day our wish came true
Our lives begin today brand new
With a deeply sincere pray
We joined our lives at our hips and soul
A bind that cannot break even when we grow old
Our marriage will last forever and a day

May our dreams never fade away…

31 July 2004 - 31 July 2005

Lip Service

Friday, July 15th, 2005

Minggu kemarin, gw dan Natia lagi sebel banget sama orang2 berseragam. Di pertengahan Juni kemarin untuk mengantisipasi Natia yang masuk kuliah lagi, kita sepakat untuk mencari perawat untuk menjaga Najla dari pagi sampai sore sampai Natia pulang kuliah untuk senin - jumat (kita ngga terlalu suka Babysitter yg full day jadi memilih perawat) dan merasa cocok banget dengan seorang perawat dari RSAL Mintohardjo, yang kebetulan memang tugasnya di ruang bayi Rumah Sakit sehingga sangat berpengalaman. Umurnya masih muda sehingga lebih enak kalau kita minta begini begitu (dibandingkan perawat senior), orangnya telaten dan sabar,  tinggal di Asrama (jadi ngga repot kalau datang pagi2, soalnya dekat banget), dan jadwal kerjanya sore sampai malam (tidak mengganggu jadwal kerjanya dia).

Dua minggu dia mengurusi Najla dan kita sudah sangat senang, karena dia sudah sangat tahu keinginannya si bayi dan kelihatan sangat tenang kalau ada apa2 (satu hal yang sangat mendasar dari perawat bayi yang baik adalah bisa tetap tenang walau si bayi nangis menggelegar seperti apapaun, bukannya jadi panik). Hingga hari itu tiba ….

Perawat ini dihubungi untuk menghadap ke pimpinan tertinggi AL (well you know), untuk diminta menjadi perawat bayi bagi cucu nya. Sebelumnya perawat ini memang bercerita bahwa teman nya sebelumnya sudah pernah diminta menghadap juga, hanya berhubung yang bertemu saat itu "hanya" anak nya atau orang tua si bayi, perawat yg datang menolak tawaran tersebut. Pada saat perawat gw menghadap, yang mewancarai adalah sang nenek dan sepertinya langsung merasa cocok dengan perawat gw ini dan memintanya langsung bekerja. Dia diminta bekerja penuh selama 24 jam 7 hari seminggu hingga 5 tahun kedepan (hingga masa kepala staf bertugas selesai) dan tinggal di rumah si bayi ini, tapi tetap diperkenankan untuk pergi2 atau cuti.

Gw dan Natia sebenarnya tidak mempermasalahkan dia pindah karena ditugaskan atau mempermasalahkan keinginan Kepala Staf dan Istrinya (hal yang amat sangat wajar menurut gw bahwa seorang orangtua atau eyang menginginkan yang terbaik untuk anak/cucu nya), hanya yang kita ngga suka itu: 1. Semua perawat yang diminta menghadap itu adalah Perawat Honorer (bukan pegawai tetap), dan tidak ada perawat tetap RSAL yang diminta menghadap. Iming2 yang diberikan bahwa, pimpinannya memberi janji bahwa perawat gw ini akan diangkat menjadi pegawai tetap / PNS bila menyanggupi tugas ini. Tentu agar pimpinannya ini mendapat nama yang baik di mata Kepala Staf ini bila perawat yang nanti bertugas bekerja dengan baik. Janji yang kemudian kita ketahui dari bicara dengan pimpinannya itu hanya sebatas "lihat saja nanti". Gw sangat memahami mengapa perawat gw ini langsung menyanggupi (Gw tidak tau apa dia sendiri akan suka dengan pekerjaannya itu, yang jelas waktu kerjanya lebih panjang dan dibayar lebih rendah), menjadi PNS merupakan impian dia. Seperti halnya seseorang yang memiliki suatu impian begitu besar, dan ada yang datang menyodori impian itu begitu saja. Gw hanya tidak ingin karena dia pegawai honorer, dipermainkan begitu saja diberi janji2 yang kemudian setelah manis sepah dibuang. 2. Pimpinan itu saat meminta perawat gw menghadap menelpon pada pagi hari dan dia tahu persis saat itu perawat gw sedang di rumah gw. Dia tidak menelpon langsung ke Handphone si perawat, tidak .. itu kurang menunjukkan kekuasaan, dia menelpon ke rumah gw langsung, meminta tuan rumah untuk memanggil si perawat, dan meminta menghadap saat itu juga. dan 3. Ternyata si bayi ini sudah punya tiga baby sitter. Dengan perawat gw ini berarti dia punya empat orang yang menungguinya 24×7. Buat orang yang punya kelebihan materi sih itu merupakan hak dia, tapi mbok jangan merugikan orang lain (bukan suatu hal yang mendesak terhadap perawat ini).

Well, peristiwa itu sudah berlalu. Kita juga akhirnya juga sudah dapat perawat baru (mudah2an bisa sebaik yang dulu). Hanya kadang gw ngga mengerti masalah basa basi dari pimpinan itu ke perawat gw. Gimana perasaan si perawat kalau setelah 5 tahun janjinya tidak dipenuhi. Yah mudah2an itu bukan sekedar lip service belaka.

Bicara tentang lip service, sejak gw mulai berhubungan dengan Natia, dia yang palig rajin mengingatkan gw tentang lip service ini (salah satu bukti bahwa dia membuat gw lebih baik :)). Kadang lip service itu sekedar basa basi yang kita lakukan sembari lewat karena tidak enak terhadap seseorang/sesuatu atau alasan untuk mencapai sesuatu, tapi malah membawa akibat yang lebih besar. Contoh kita bertemu dengan seseorang, dan sebagai basa basi menjanjikan sesuatu, janji ketemu, memperkenalkan kepada seseorang dll yang sebenarnya pada saat itu kita lakukan hanya untuk "breaking the ice" percakapan atau karena faktor "enak - tidak enak", yang malah mengecewakan pihak lain tersebut. Sudah jamak bahwa yang orang yang Dijanjikan sesuatu akan jauh lebih ingat dari pada dia Menjanjikan sesuatu.

Gw sudah beberapa kali mengalami dengan beberapa teman. Niat mereka sesungguhnya tidak jahat, just being nice mungkin kata yang tepat (kebiasaan orang melayu sepertinya yah). Masalahnya kadang hal seperti ini untuk urusan yang besar atau terjadi berulang2, secara dibawah sadar akan menyebabkan kita jadi kurang percaya terhadap orang tersebut. Sesuatu yang sebenarnya ngga perlu terjadi. Oleh karena itu gw sebisa mungkin mengingatkan ke teman2 gw yang melakukan hal tersebut. Bagaimana bila kita melakukan itu kepada orang lain, hingga dia kehilangan kepercayaan kepada kita padahal (mungkin) dia jalan kita menuju (misal) pekerjaan yang lebih baik, jodoh, kesempatan bisnis dll. Bagaimana di Bisnis? terutama di kalangan tertentu, perjanjian verbal itu sudah bisa menjadi kontrak bermeterai.

Andrew Matthews dalam bukunya Being Happy mengatakan bahwa sifat dasar manusia untuk selalu melihat diri nya benar (Irina Dewi pada suatu siaran memberikan analogi yang menurut gw sangat menarik, pada saat kita menyetir mobil itu ngga ada yang paling benar selain kita. Kalau ada mobil yang kecepatan dibilang "Gila tuh orang ngebut2" atau "Mau nabrak kali yah" dll n kalau kelambatan dibilang "Dasar kura2" atau "Gas nya ditekan donk mbak!" dll. Yang paling pas yah kecepatan kita itu :)) sehingga dengan merubah sedikit pola tersebut dengan empati maka hidup akan lebih bahagia :) Jadi gw juga sekalian mohon maaf kl memang masih/pernah melakukan lip service selama ini, tolong diingatkan donk Janji yang masih menggantung itu (mohon kalau ada janji2 yang melibatkan uang diatas 100ribu diampuni saja yah hahaha

Surat Pembaca

Tuesday, July 12th, 2005

Satu bagian yg paling gw suka dan menarik dari surat kabar adalah Surat Pembaca. Kadang banyak informasi yg bisa menjadi masukan untuk memutuskan sesuatu entah itu pembelian barang, pemilihan bank, pemilihan perusahaan pelayanan, tempat makan sampai kelakuan2 lain yg bikin geleng2 kepala. Salah satunya adalah yg berikut ini.

Lionairkompas11juli2005_2

Surat pembaca ini dimuat Kompas hari senin kemarin (11 Juli 2005), dan berhubung hingga hari ini masih ada beberapa rekan yg membicarakannya maka gw ingin menshare di blog ini. Gw sangat menantikan jawaban Lion Air terhadap surat pembaca yg satu ini :D

 

Imaginary friends?

Monday, July 11th, 2005

Sejak umur sebulan Najla sudah bisa melihat dengan benar dan mampu merespons gerak dan warna yg ada disekitarnya. Sebenarnya sejak lahir bayi sudah bisa melihat, hanya kemampuan syaraf mata utk memipihkan dan mencembungkan lensa mata belum lah baik sehingga objek yg dilihat hanya akan terlihat jelas pada jarak tertentu. Seperti halnya pelajaran SMA dulu tentang lensa dan optik, ada suatu kondisi dimana objek yg terletak di tak terhingga akan jatuh di titik fokus (titik api). Gw dan Natia senang sekali, soalnya kalau di ajak main dia sekarang sudah bisa meresponds, apalagi kalau lalu tertawa. Duhh .. hilang semua masalah hidup hihi

Kurang lebih 2 minggu yg lalu, Natia menceritakan hal yg kemudian menarik perhatian gw untuk mengamati selama ini. Sang bayi sangat suka untuk melihat di sudut2 ruangan tertentu, lalu seolah2 sedang berbicara dengan seseorang, lalu tertawa. Kadang di sudut ruangan yg lain, dia akan bersikap biasa atau kadang menangis. Hal ini ternyata bahkan sudah dilakukannya sejak dia kembali dari Rumah Sakit. Di saat penglihatannya belum fokus, komunikasi dengan "sesuatu" ini telah terjadi. Dia sering tertawa dan bermain. Sekarang frekuensi nya lebih cukup sering karena dia suka digendong untuk melihat sekitarnya.

Gw menanyakan hal ini kepada kakak gw yg bayinya beda 1 bulan dengan Najla, dan beberapa teman yg mempunyai bayi dengan mendapatkan jawaban yg sama. Mungkin hanya tempat yg berbeda. Ada yg dipojok ruangan seperti gw, ada yg diatas kaligrafi, diatas lukisan/foto dll. Bayi mereka juga memberi respon tertawa/tenang/biasa/menangis.

Gw sendiri tidak tahu persis apakah ini yg disebut imaginary friends? guardian angel? atau yg lainnya. Di tradisi jawa sendiri dikatakan bahwa "sesuatu" itu adalah kembaran dari sang bayi. Konon, ari2 dan plasenta sang bayi itu merupakan perwujudan dari sang kembaran ini. Oleh karena itu perlakuan yg baik dilakukan terhadap ari2 dan plasenta ini. Gw sendiri, karena mengikuti tradisi orangtua jaman dulu ini (walau tidak mengetahui tujuannya - well sometimes life like that :)) menyimpan ari2 dari Najla di suatu tempat khusus dan menanam plasentanya di depan rumah, kemudian menyalakan semacam lampu teplok diatas tempat penanamannya setelah maghrib selama 40 hari berturut2 dengan tujuan menghormati sang kembaran ini. Walau di kemudian hari gw baru mengetahui bahwa alasan memberi lampu teplok dan menyalakannya di malam hari, karena untuk masyarakat jaman dahulu (belum ada lampu jalanan)dengan posisi penanaman di depan rumah itu untuk menghindari pengguna sepeda atau orang yg lewat agar tidak menginjak tempat penanaman :D

Pertama2 gw mencoba mencari informasi dari internet, hanya setelah membaca berbagai forum (ini salah satunya: Do your children see ghosts?) tidak ada jawaban yg cukup memuaskan sehingga bosan sendiri. Walau kadang kalau sedang sendiri di kamar agak merinding juga membayangkannya (kenyataannya ada "sesuatu" di kamar itu), hanya gw dan Natia membiarkan saja karena "sesuatu" ini sptnya (mudah2an) niatnya baik, menenangkan dan mengajak bermain serta tertawa. Artikel ini sangat menenangkan My child has an imaginary friend. Is this normal? :)

Repitition

Sunday, July 10th, 2005

Knowledge is a mental grasp of a fact of reality, reached either by perceptual observation or by a process of reason based on perceptual observation. Itu kutipan menarik dari satu bacaan yg gw dapat minggu kemarin dari Ayn Rand. Knowledge - Information - Repitition. Pengetahuan - Infomasi - Pengulangan, hal ini yg sedang jadi renungan gw beberapa hari ini.

Kita menyerap informasi dari semua panca indera yg kita miliki dari kecil hingga umur kita sekarang, memproses nya secara sistematis menjadi pengetahuan, dan dilakukan secara berulang2.

Pengulangan. Banyak yg berkata ini adalah inti dari pengetahuan. Bayi belajar untuk berdiri secara berulang hingga dia memiliki pengetahuan berdiri secara benar, seorang karateka mengulang jurus2 yg sama sehingga menjadi pengetahuan (kebiasaan), kita belajar berhitung & berkali secara berulang2 hingga menguasai nya secara benar, belajar mengendarai mobil dari mulai menekan rem hingga berkendara di jalan raya, seorang anak yg dilimpahi kasih sayang akan belajar ttg kasih sayang itu dan sebaliknya bila diberi kekerasan akan belajar ttg kekerasan dll.

Hal ini yg diadopsi oleh proses pendidikan untuk mengajarkan segala sesuatu secara berulang2 utk menanamkan suatu pengetahuan kepada muridnya. Sesuatu yg kemudian banyak dikritik oleh para konseptor pendidikan. Salah satu yg membahas masalah ttg pengulangan dalam kaitannya dengan Teori pengetahuan adalah John Dewey dalam bukunya Democracy and Education. Karya John Dewey ini terbit tahun 1916 dan memberi pengaruh yg sangat besar kepada sistem pendidikan di Amerika di kemudian hari. Satu informasi yg menarik bahwa buku ini masuk di urutan 5 dalam Ten Most Harmful Books of the 19th and 20th Centuries.

Apa yg salah sebenarnya dengan pengulangan? Gw melihat kontribusi terbesar dari pengulangan adalah menciptakan kebiasaan dan rutinitas. Gw pribadi berpendapat bahwa kebiasaan dan rutinitas cenderung untuk menempatkan seseorang dalam zona yg dibuatnya sendiri. Sering kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu masalah dari out of the box, dari luar sistem tersebut. Sebuah kreatifitas. Kreatifitas menurut gw adalah kemampuan seseorang utk keluar dari kebiasaan/rutinitas nya untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yg baru.

Pernah tidak kita begitu sulitnya menyelesaikan suatu puzzle dengan mencoba berbagai kombinasi dan kemudian diselesaikan dengan mudah oleh orang lain yg mencobanya; memikirkan bagaiman menyelesaikan suatu masalah hidup yg sepertinya tak terpecahkan dan kemudian diberi masukan yg applicable oleh seseorang ; berada di lingkungan pekerjaan dimana kita menemui orang2 di jajaran fast track karir sepertinya begitu mudah nya menemukan inovasi2 baru, pikiran atas perbaikan2 dalam sistem, ide2 segar, sedang dia berada dengan lingkungan kerja yg sama dengan yg kita jalani; perusahaan besar yg harus menyewa jasa konsultan ternama semacam Mckinsey, BCG, Booz Allen dengan biaya jutaan dollar utk meningkatkan kinerja perusahaannya? Apa kunci nya? Mereka menempatkan diri mereka diluar sistem, berpikir secara objektif dan muncul dengan ide2 baru.

Jadi mungkin ada yg perlu dikoreksi dengan sistem pendidikan negeri ini, sehingga menghasilkan pembuat2 kebijakan yg tidak mampu utk melihat dari luar kotak. Menyelesaikan masalah perkereta apian dengan membeli puluhan kereta baru dari jepang dibandingkan menyehatkan perusahaan dengan pembenahan sistem tiket-ing, Menyelesaikan masalah BBM dengan mengusahakan kontrak baru, pencarian ladang minyak baru dan peraturan penghematan dibandingkan memperbaiki kebocoran yg ada, Meributkan output SDM dengan qualifikasi hasil ujian pilihan berganda dibandingkan membuat masterplan pendidikan yg jelas dll.

Untuk apa semua itu? tentu saja untuk kehidupan negeri ini yg lebih baik. Mengutip kembali Ayn Rand "To a life which is a reason unto itself."