Busy weeks

Busy weeks. Udah banyak banget hal2 yg mengendap di kepala yg sebenarnya ingin dicurahkan ke fs selama 10 hari terakhir ini. Dari mulai ribut2 masalah vonis Corby n responds Australia (gw tertarik dgn artikel ini: Kasus Corby, Australia harusnya berkaca dgn kasus Chika Honda), terungkapnya Deep Throat yg sebenarnya (lihat apa itu DeepThroat dan setelah puluhan tahun terungkap), Pemenang film terbaik hongkong untuk 100 tahun terakhir ("Farewell My Concubine" most popular chinese film), StarWars III review (finally gw berhasil menontonnya setelah 2 minggu merencanakan), pikiran2 yg berkaitan dgn starwars itu, sampai tempat makan di kelapa gading.

Well, deep throat n corby mungkin sudah amat basi. Jadi nya Farewell my concubine lah yg akan dibicarakan. Ini termasuk film lama yg termasuk grade A buat keromantisannya. Di release tahun 93, dia sempat dapat penghargaan Palem Emas di festival Cannes. Di lain ke romantisannya, gw suka sama film2 yg ending nya secara realistis (tidak harus happy ending - satu hal yg mungkin mengesalkan untuk beberapa orang :)). Itu kenapa gw suka film romantis nya Ethan Hawke dan Julie Delpy: Before sunrise dan Before sunset yg alur nya alami (bisa saja terjadi dalam kehidupan kita - yeah, I wish .. hehe). Dan seperti halnya Before sunrise yg DVD versinya sudah mulai banyak yg beredar, gw berharap Farewell my concubine juga akan segera muncul DVD nya di indo (sampai sekarang gw belum pernah liat DVD nya. Dulu sih ada di Laser Disc). Dalam kaitannya dengan film2 romantis dan terbaik, Radio Cosmopolitan di acara Happy Hours nya selasa sore kemarin (lihat host bersuara merdunya: Irina Dewi) membawakan topik tentang film2 yg paling berkesan selama ini. Dan gw cukup senang bahwa banyak juga yg selera filmnya sama dgn gw :)

Star Wars III cukup memuaskan para fans nya. Didominasi dengan permainan special effect (konon George Lucas menyatakan salah satu alasan penting kenapa Hexalogi Star Wars dimulai dr episode IV, karena special effect yg dimiliki pada tahun itu - 1977 - belum cukup memadai utk memproduksi episode I - III. Terbukti seri2 I - III, sarat dengan special effect), jalan cerita cukup bisa membawa kita mengerti transformasi seorang Anakin menjadi Darth Vader. Gw kemarin membaca salah satu artikel di internet tentang 40 pertanyaan yg belum terjawab dari Star Wars I - VI (lupa euy link nya), hanya satu yg mengganggu gw utk episode III ini. Kalau tau Padme akan meninggal pada saat melahirkan, kenapa ngga mikir untuk Operasi Seksio Caesar saja? Di jaman, dgn kemampuan intergalactic pasti teknologi ini sudah ada. Jadi setelah pertama mendapat mimpinya, harusnya Anakin memilih dokter (atau Droid?) ObGyn yg bagus untuk Seksio. Untuk orang secerdas dan seteknikal anakin (sudah mampu membuat C3PO saat masih kecil. Nonton lagi: Star Wars I: The Phantom Menace) tidak mungkin dia tidak tahu hal seperti itu :)

Lalu apa setelah Hexalogi ini selesai? CNN membahas nya dari sisi tidak ada lagi film2 sci-fi yg cukup bermutu pada dekade baru ini (baca: You’ve seen ‘Star Wars.’ Now what?). Untuk para Sci-Fi fans (termasuk gw), juga dengan masuknya episode terakhir musim ini dari Star Trek: Enterprise, harus beralih kembali ke game-based atau menonton episode2 lama. Khusus untuk Star Wars, gw malah berharap (seperti halnya novel2 nya yg sudah banyak beredar) dibuat versi New Republic nya. Fasa setelah Rebel Alliance menang dari Empire. Perang dengan sisa Imperial Navy yg dipimpin oleh Grand Admiral Thrawn (mungkin Rebel Alliance tidak akan menang melawan Empire di perang terakhir Battle of Endor pada episode Return of the Jedi, bila Thrawn pada saat itu tidak sedang di mutasikan ke unknown region), dan yang terpenting adalah perang besar dengan ras penjajah: Yuuzhan Vong. Konflik yg bisa diceritakan akan cukup bagus untuk difilmkan. Mungkin bisa lebih historik dari konflik2 Sci Fi legendaris seperti untuk Star Trek (antara Federation dengan Borg) atau Babylon 5 (antara Interstellar Alliance dengan Shadows). Belum lagi sisi romantisnya, percintaan (hingga pernikahan) antara Han Solo dan Leia, atau Luke Skywalker dan Mara Jade. Well it’s just a thought :)

2 Responses to “Busy weeks”

  1. Any Says:

    wi…just one question…lo sempet banget ya nonton semua film tu, gimana manajemen waktunya sih..?:D

  2. Dwi Says:

    hahaha, gitu yah. Kl dulu waktu kuliah gw ngerasa nyewa VCD itu bobotnya 8 SKS. Jadi yah 8 kali nonton perminggu hehe, setelah kerja film itu hiburan gw sepulang kantor. Apalagi setelah punya anak sekarang. Nonton disela2 anak tidur. Gw skrg jarang nonton acara TV, n lebih prefer film (for us and our children own good :)). Berminat ikut komunitas KYTV (Kill Your TV)?? :) Hanya itu, tetap saja beli DVD lebih banyak dr kesempatan menontonnya (keluh … :))
    Ini 3 Artikel menarik:

    Anda Cuek, Anak Nonton TV
    http://www.kompas.com/kesehatan/news/0504/11/123416.htm

    Matikan Saja TV Anda!
    http://www.kompas.com/kesehatan/news/0402/19/055920.htm

    Mengatasi Saat Anak Keranjingan Televisi
    http://www.kompas.com/kesehatan/news/0502/14/072101.htm

Leave a Reply