Akankah GIE berbobot?
Kemarin sore gw ngobrol dengan Damar. Dia menginformasikan film indonesia terbaru (yg bila dibuat secara bagus) akan cukup berbobot: GIE. Dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Wulan Guritno, film ini mengadaptasi dari catatan harian yg kemudian dibukukan dari Soe Hoek Gie yaitu Catatan Harian Seorang Demonstran. Soe Hoek Gie adalah aktifis pergerakan kemahasiswaan di tahun 1966, yg berbeda dng beberapa rekan sejawatnya yg "membelot" dan masih/telah menjabat di birokrasi pemerintahan, dia memilih untuk hidup idealis hingga akhir hidupnya yg singkat yaitu 27 tahun. Meninggal karena keracunan gas di lereng Semeru.
Bila diperhatikan sebulan terakhir ini, sebagai pembuka dari film nya yg akan launching bulan Juli nanti, buku Catatan Harian Seorang Demonstran ini bisa banyak ditemui di toko2 buku. Lucunya versi cetak baru dari buku ini, menggunakan foto Nicholas Saputra di cover depan buku tersebut. Mungkin pemilihan Nicholas untuk sampul buku dan juga pemeran utama, lebih dari aspek komersil. Sosialisasi film dan buku sejenis ini memang tidak mudah, dan dengan menggandeng Nicholas semoga remaja2 bisa diajak untuk mengerti dan memahami sejarah pergolakan kemahasiswaan pada tahun tersebut. Pergerakan yg masih murni untuk rakyat, masa dimana status Ketua Dewan Mahasiswa (DeMa) bisa punya kekuatan politis yg kuat. Sebuah komponen penyeimbang rakyat dari birokrasi pemerintahan kala itu.
Kalau gw boleh menilai, tokoh Soe Hoek Gie ini memang kurang bisa direfleksikan oleh Nicholas. Pertama dari sisi fisik dimana Gie adalah keturunan tionghoa dan berperawakan kecil dan yg kedua (ini sangat subjektif) walaupun Nicholas adalah mahasiswa UI (Arsitektur 2002 kl ngga salah), dia mungkin akan kesulitan untuk menghayati suasana pergolakan saat itu bila dibandingkan dengan suasana organisasi kemahasiswaan saat ini. Bila dia dapat berkonsultasi dgn senior2nya para tokoh kemahasiswaan pada pergerakan kemahasiswaan 1998, mungkin hasilnya akan lebih baik. Disini tantangan dari sutradaranya, Riri Reza untuk dapat mengarahkan para pemainnya. Film2 Riri telah teruji secara komersil melalui Petualangan Sherina dan secara Artistik melalui Eliana, Eliana (meraih penghargaan Young Cinema Award, Film Critical, dan Netpac Award di ajang Festival Film Singapura, beberapa waktu lalu), hingga bila dia berhasil meracik film ini secara baik mudah2an tujuan yg diinginkan bisa dicapai. Ambisi Riri mungkin seperti itu untuk film ini melihat dia sendiri yg menyutradarai dan menulis naskahnya.
Gw sendiri sudah melihat beberapa bagian dari film tersebut, dan yg harus gw point out itu kekurangan di nuansa kampus UI yg masih seperti jaman sekarang, serta apa perlunya adegan ciuman antara Nicholas dengan Wulan sebagai bumbu film ini (sekali lagi ini mungkin menurut Riri perlu secara komersil). Kita lihat saja peluncuran perdana film dari buku yg pernah menjadi pegangan wajib para pemimpin aksi gerakan mahasiswa 1998 ini bulan juli nanti. Apapun kritik nya nanti, salut untuk Riri Reza dan para pendukung kebangkitan perfilman indonesia.