Archive for June, 2005

Launchingnya Sang Calon Box Office

Tuesday, June 21st, 2005

Majalah AutoBild bulan Juni 2005 mengeluarkan artikel ttg topik yg dinanti2 penggemar mobil Jazz selama ini. Test perdana Honda Jazz V-Tec dan reviewnya. Ini merupakan penantian lebih dari setahun setelah launching Jazz versi IDSI di awal 2004. Berbeda dengan New City, dimana Honda melaunch versi V-Tec hanya berbeda sebulan dari versi IDSI nya, untuk Jazz sepertinya Honda masih "menikmati" antrian indent dan peningkatan penjualan (Teman gw memberi nama Jazz sebagai mobil sejuta umat :)). Trend harganya juga terus meningkat (139.5 -> 143.5 -> 145.5 utk versi matic). Versi Jazz V-Tec ini diperkirakan akan dijual 10jt lebih mahal dari versi IDSI.

Gw membaca review dari Autobild dan Wong KN dari V-Tec temple, dan beberapa hal yg bisa di point out tentang perbedaan versi IDSI dan V-Tec. Yg pertama untuk tampilan luar tidak ada perbedaan yg mendasar, hanya ada perubahan letak antenna kesisi belakang, penghilangan fog lamp, dan penambahan accessories sporty untuk versi V-Tec. Yg kedua untuk interior, versi V-Tec menggunakan bahan yg lebih tua sehingga terlihat lebih ekslusif. Yg ketiga untuk performa mesin, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Tenaga keluaran IDSI  lebih kuat utk rpm dibawah 3500 sedang V-Tec untuk diatas 3500 rpm untuk konsumsi bensin kurang lebih 1:14-16 untuk IDSI dan 1:10-12 untuk V-Tec (dalam kondisi jalan normal). Artinya memang untuk pengguna mobil yg lebih banyak untuk kecepatan tinggi V-Tec merupakan pilihan yg tepat, sedang untuk pengguna jalan dalam kota, bensin yg irit tentu pilihan yg reasonable. Yg keempat adalah suspensi. Suspensi V-Tec lebih keras dari suspensi IDSI. Hal ini diperlukan untuk menahan body pada kecepatan tinggi. Tapi bukan berarti ini mengorbankan kenyamanan penggunanya.

Yg menarik bahwa review ini menyatakan bahwa Jazz V-Tec tidak akan menggunakan ABS (Antilock Breaking System) dan menggunakan sistem rem cakram. Walau efektifitas ABS sebenarnya masih menjadi kontroversi (baca: Bahaya ABS), banyak mobil bertenaga V-Tec menggunakannya utk kontrol dan safety.

Lalu bagaimana dengan kompetitor? Gosip yg beredar Toyota akan melepas Vitz yg cukup populer di Jepang dan Eropa pada akhir tahun ini, dan Suzuki akan ikut meramaikan pasar dengan Swift. AutoBild membahas perbandingan antara kelebihan dan kekurangan masing2 mobil ini. Masalah harga? Perkiraan harga utk versi matic Vitz berada diposisi yg termahal (200), lalu Jazz (155.5) dan Swift (140). Kalau melihat desain sih Vitz oke banget. Hanya bagasi nya terlalu sempit utk bawa banyak barang (baca: Stroller/kereta bayi :))

Gosip launching Jazz V-Tec ini sebenarnya lama sudah ramai di kalangan distributor Honda resmi, hanya tidak banyak yg berani untuk buka mulut atau memberi janji ke pembeli. Satu2nya yg gw tau mau diinden adalah Honda Automall dr awal tahun ini (dan ternyata benar!). Kenapa Honda begitu menjaga kerahasiaan launching Jazz? Dengar punya dengar, Honda tidak mau kecolongan seperti kasus Innova di Toyota. Gosip launching Innova sudah jauh beredar sebelum official launchingnya, sehingga para distributor, showroom dan agent mobil menggunakan orang dalam/koneksi untuk mengindent jauh sebelum pembeli umum bisa indent. Akibatnya quota mobil pada saat launching dipegang penjual, yg umumnya menjual harga dengan lebih tinggi dari harga resmi. Dan pasar mereka adalah orang2 yg lebih senang mengeluarkan uang 10jt lebih mahal dibandingkan menunggu berbulan2 (dan menjadi orang pertama yg terlihat menggunakan mobil tersebut). Oleh karena itu sepertinya Honda akan melakukan official launchingnya pada gelaran pameran otomotif GAIKINDO 8 Juli 2005 besok.

Akankah Versi V-Tec ini sesukses versi IDSI dalam penjualan? menciptakan Box Office berikutnya untuk Honda? Kita lihat dulu barangnya. So, check jazz it up at 8 Juli :)

Film Review

Monday, June 20th, 2005

Film apa yg bagus sekarang? gimana film nya? mungkin pertanyaan itu banyak diajukan pada hari senin, rabu dan weekend. Senin adalah hari nomat, hari kamis adalah clear wednesday adalah saat buy one get one free buat pemakai kartu citibank clear card, dan weekend adalah saat berbelanja DVD di glodok/Ambassador atau tempat perbelanjaan lain (paling tidak gw melakukannya pas weekend :)). Pernah mengalami situasi salah memilih film? Bila kita menonton DVD mungkin kita akan kecewa, mematikannya, dan melupakan 5000 rupiah yg sudah dikeluarkan (di Glodok 4000 rupiah skrg lho), hanya bila itu dialami di dalam bioskop, rasanya sayang harus keluar di tengah film apalagi bila kita nonton di Bioskop2 mahal. Well, itu tentu saja kl tujuan di bioskop utk nonton. Kl ada tujuan2 lainnya (terutama utk yg berpasangan) bisa diabaikan komentar itu :)

Baru beberapa hari yg lalu ada teman yg mengomel setelah menonton Open Water di Bioskop. Beberapa hari sebelumnya komentar yg sama juga ditujukan utk film The Jacket. Mereka menyatakan kekecewaannya setelah menonton film2 tsb. Gw sendiri belum pernah menonton keduanya, hanya saja cukup tergoda melihat trailer dari Open Water yg sangat persuasive (dan kemudian berpikir dua kali utk menontonnya, bahkan utk membeli DVD nya sekalipun). Membeli DVD pun hal yg sama, memilih film yg bagus (apalagi setelah didepan tumpukan dan deretan semua film) mempunyai kesulitan tersendiri. Mungkin karena dr sisi nominal harganya yg tidak seberapa, ini tidak menjadi permasalahan besar.

Kriteria bagus atau tidak nya suatu film adalah subjektif. Satu film dianggap bagus oleh orang lain, belum tentu oleh yg lainnya. Sebuah selera. Tapi bukan berarti tidak banyak film2 yg punya selera pasar umum. Gw biasanya sebelum menonton film menanyakan dulu dengan teman yg sudah menonton (dan berselera sama atau sudah kita tahu selera filmnya seperti apa), atau dengan melihat review2 yg banyak di internet. Salah satu site review-er yg paling sering gw jadikan referensi adalah IMDB. Dengan itu sudah cukup? ternyata tidak. Gw pernah "tertipu" dengan salah satu film Harold & Kumar Go to White Castle. Seorang teman menyatakan film ini bagus, dan review di IMDB nya juga tidak terlalu buruk. Gw dan bini hanya bisa termenung setelah film usai, menanti bagian lucu nya dari film komedi ini. Hal yg paling teringat dari film ini mungkin hanya bahwa gw tertawa karena satu bagian di film ini (disaat Harold & Kumar menaiki macan), menertawakan diri gw (sebenarnya lebih mengasihani) yg telah menontonnya sampai selesai dan ingatan atas hamburger mini yg ada di satu bagian film (kelihatannya enak sekali). Mungkin ini sekali lagi adalah selera. Reviewers di IMDB mayoritas adalah orang western yg (untuk beberapa hal) selera humor nya tidak sama dengan gw. Karena itu gw sering menggoda teman gw yg memberi rekomendasi bahwa dia memiliki selera film orang barat :)

Bagaimana dengan DVD? dulu ada saatnya dimana gw memilih film dengan melihat berapa banyak logo palem yg ada di cover depannya. Beranggapan bahwa film itu memenangkan kategori2 tertentu di penghargaan internasional, entah itu Academy Awards (Oscar), Golden Globe Awards, Cannes Film Festival Awards, The People’s Choice Awards, MTV Movie Awards, The Golden Raspberry Award dsb (baca: Movie Awards: What Do They Mean) maka ada jaminan bahwa film tersebut merupakan film2 bagus. Hanya hati2. Gw beberapa kali menemukan bahwa ada film2 yg juga mencantumkan logo The Stinkers Awards (penghargaan untuk film terburuk) atau beberapa penghargaan terburuk lainnya yg tidak berhubungan. Mereka tidak berbohong dengan mencantumkan award itu, hanya buat yg mengharapkan film itu merupakan film bagus tentu jadi kecele.

Satu lagi yg biasanya gw lihat di cover sebuah film adalah review. Di beberapa film terdapat tulisan komentar mengenai film tersebut dari pihak ketiga. Misal "Thrilling and breathtaking" by RollingStones Magazine, "One of the best movie 2005" by Chicago Sun Time, "An Exceptional movie" by Siskel & Ebert dll. Gw pribadi sangat percaya dengan film2 yg diberi predikat bagus oleh Siskel & Ebert (lalu menjadi Ebert & Roeper setelah Gene Siskel meninggal di tahun 1999). Dan sejauh ini film2 yg gw tonton dengan berbekal reviewnya Siskel & Ebert sangat memuaskan selera gw. Sekilas tentang Roger Ebert, dia adalah orang pertama yg mendapatkan Pulitzer untuk kritik film dan mendapat beberapa penghargaan baik untuk acara TV nya, Artikel di koran, Buku atau publikasi lainnya tentang kritisasi film. Beberapa reviewer film yg bisa jadi pertimbangan juga seperti Joel Siegel (ABC & Good Morning America), Pauline Kael dll.

Dengan berbagai referensi itu juga belum cukup? coba cek dulu di Movie Review Query Engine, website ini mencuplik review diberbagai media massa di US, review di internet ataupun para kritisi film dalam satu website. So majority votes rules, kita bisa memperkirakan bila mayoritas bilang bagus yah bisa dipastikan film itu bagus :)

So happy nomat today :) … MADAGASCAR!!

Menanti hentakan Paul Gilbert di Jakarta

Thursday, June 16th, 2005

Pgindonesia Bila tidak ada halangan pada 13 Juli 2005, Jakarta akan dihentakkan oleh sang "Guru" Paul Gilbert. Berbeda dengan kunjungannya terdahulu yg bersifat terbatas dan acara couching gitar, Gilbert datang ke Indonesia dalam rangka promo tour keliling dunianya(Paul Gilbert World Tour 2005).

Mungkin publik umum lebih mengenal groupnya terdahulu, Mr. Big, atau gitaris-gitaris terkemuka lainnya seperti Santana, Slash, Yngwie Malmsteen, atau sang legenda Jimi Hendrix. Tapi Paul Gilbert adalah fenomena tersendiri. Gw mulai "tersentil" teknik bergitar nya melalui Street Lethal, hasil project bersama di Racer X (Thanks to Adi Susilo di malam2 bergadang di Lab. PLN ITB), lalu gitar solonya di Frenzy dan Y.R.O (Ekspresi instrumental keras dari karya Perpetual Motion nya Niccolo Paganini).

Project berikutnya dari Paul Gilbert adalah Mr. Big. Bersama Billy Sheehan, Pat Torpey (drum) dan Eric Martin (vocal) yg sukses secara komersil. Selepas itu Paul memulai karir solo nya. Satu langkah penting yg dia lakukan yaitu dia mempersatukan kembali Project Racer X dengan menghasilkan 2 Studio Album dan 1 Live Album (Album studio ketiga dalam proses penyelesaian). Bagi yg menyukai jenis musik yang cukup keras, cepat, dan "agak" berisik bisa jadi alternatif musik di kala hati sedang galau :)

Sebelum tour dimulai, Paul berkata "I DO have 3 pointy guitars. And that means ROCK". Welcome to Jakarta, Paul!

Parabola, Astro TV dan Blue Kiss

Wednesday, June 15th, 2005

Senin kemarin di Kompas gw membaca salah satu iklan yg membuat gw melompat gembira. Isinya kira2 seperti ini "Sebuah Provider TV Satelit terkemuka di Asia Tenggara mencari distributor untuk pemasaran…". Kenapa gw gembira? karena gw yakin 100% bahwa provider yg dimaksud adalah Astro TV, layanan TV Satelit di Malaysia (semacam Indovision - konon bahkan semua layanan Pay TV Indonesia itu diambil dari Astro. Kl diperhatikan jam2 tayangan film yg diiklankan sering memakai waktu malaysia, GMT +8, atau "On Astro at"), dan seperti gosip yg telah beredar sejak tahun lalu bahwa mereka akan masuk ke Indonesia.

Dengan jumlah channel yg lebih banyak (warga malaysia lebih majemuk, sehingga siaran hindi dan mandarin juga lebih banyak), paket yg ditawarkan akan lebih murah dari provider yg sudah ada di Indonesia. Dan itu menggunakan satelit pula, sehingga bisa digunakan dimana saja. Tidak seperti kabelvision yg walau lebih murah hanya dibatasi infrastruktur. Sebagai bayangan untuk subscribe terlengkap membutuhkan biaya RM89.95 perbulan (sumber: Makmur Parabola dan AstroTV) atau dengan kurs 1RM = Rp.2500 sebesar Rp.224.875 (lebih mahal lagi bila tambah paket Dynasty dan Emperor utk siaran Mandarin). Lebih murah dari paket lengkap Indovision misalnya Rp.289.000. Well, untuk beberapa orang selisih uang tersebut mungkin tidak ada artinya dibandingkan pengorbanan yg harus dilakukan dengan membaca text terjemahan bahasa Melayu. Hanya gw sudah terlanjur jatuh cinta dengan Astro.

Dimulai dari era parabola digital, waktu itu Astro masih dapat ditangkap secara gratis (well, sebenarnya dengan cara mengakalinya) sehingga gw lebih familiar dengan siaran2 astro. Sayangnya mulai september 2004 yg lalu, Astro cukup pintar dengan mengupgrade metode enkripsi siarannya menjadi Seca2 (ini semacam algoritma pengacak digital untuk siaran satelit). Akibatnya hingga saat ini belum ada key lock yg cukup ampuh untuk menikmati siaran astro secara gratis lagi. Sebenarnya korelasi apa sih antara parabola - satelit - pay TV? ini akan ada kaitannya dengan liputan kupas tuntas di TransTV pada hari Jumat yg lalu mengenai siaran BlueKiss.

Secara sederhananya, dengan perangkat parabola digital, receiver dan aktuator (utk menggerakkan parabola), kita dapat menangkap berbagai siaran TV yg ada di banyak negara yg menggunakan satelit untuk media transmisi nya. Contohnya bila kita mengarahkan parabola kearah 108 derajat Timur, maka siaran yg ditangkap dari Satelit Telkom1 meliputi channel2 TelkomVision, Lativi, TV7, TransTV, TV Edukasi (dan beberapa radio seperti TrijayaFM, SonoraFM, RRIPro2FM). Semuanya bisa ditonton? sayangnya tidak. Tidak semua stasiun TV/Provider "rela" siarannya ditonton gratis. Umumnya mereka mengenkripsi siarannya secara digital dengan sistem acak. Service pengacak yg populer digunakan adalah Seca/MediaGuard, Nagravision dan ViaAccess. Nah Astro dan BlueKiss adalah contoh siaran-siaran yg diacak. Kalau Astro di Satelit MeaSat1 sedang BlueKiss di satelit AsiaSat3S.

Nah, bagaimana caranya menonton siaran yg terenkripsi seperti ini? Ada 3 cara yg umumnya dipakai. Yg pertama menjadi pembeli kartu langganannya. Kartu ini semacam SmartCard dengan chip yg dimasukkan ke Reader Slot di Receiver (tidak semua receiver memiliki slot kartu). Otomatis harus membayarkan sejumlah uang untuk biaya berlangganan. Yg kedua dengan memasukkan kode2 key di receiver tiap bulan atau pada saat siaran sudah diacak. Umumnya service enkripsi untuk tiap Channel akan merubah kode2 key tiap bulannya. Dengan memasukkan key yg bisa didapat dr penjual parabola atau di internet maka kita dapat menonton beberapa channel secara gratis. Problem nya, metode enkripsi Seca2 dari Astro belum dapat di track algoritma nya untuk dapat mengenerate key tiap bulannya dan posting2 key satelit di Internet sekarang adalah terlarang dan dapat dituntut secara hukum (well, bukan berarti tidak ada sama sekali). Cara yg ketiga adalah upgrade Firmware. Firmware itu software internal dari perangkat receiver. Pada saat pembelian receiver, dipastikan bahwa merk tersebut cukup aktif memberi update firmware. Firmware terbaru akan memiliki kode2 key dan fitur2 terbaru. Ini memungkinkan receiver menangkap siaran2 yg teracak.

Bagaimana dengan fenomena BlueKiss? Sebenarnya penggunaan parabola untuk menangkap siaran2 porno telah dimulai dari mulai parabola analog (yg mirip saringan itu) sejak akhir tahun 80. Trend transmisi digital kemudian merubah teknologi parabola menjadi digital (parabola lingkaran solid). Siaran2 itu ada yg dapat ditangkap secara bebas dan ada yg harus berlangganan. Peluang ini yg kemudian dimanfaatkan beberapa penyedia parabola untuk menarik langganannya. Pola pengiklanannya sendiri sebenarnya sangat transparan, baik di Media Massa (gw sudah melihat dr 2004 awal di Media Indonesia dan Kompas secara reguler) atau internet (iklan baris). Kalau memang ini sudah berlangsung lama, mengapa baru ramai dan diusut oleh kepolisian sekarang? nah itu yang gw juga tidak tahu.

Untuk pengamanan dari konsumsi anak2 di rumah, sebenarnya receiver mempunyai kemampuan untuk melock suatu channel dengan password. Hanya yah itu, seperti halnya media porno lainnya (VCD, DVD, Video) ini tidak lepas dari peran orang yg menggunakannya. Dari liputan kupas tuntas sendiri, salah seorang penjualnya mengatakan bahwa penjualan dari BlueKiss tidak terlalu menguntungkan. Dengan untung 50 - 100rb per pelanggan/tahun, kemungkinan complain dari pengguna karena kartu rusak, channel hilang, atau hal lain sangat besar. Tapi entah yg sebenarnya bagaimana.

Seperti halnya semua media teknologi yang memiliki sisi kontroversialnya, Parabola bisa dijadikan media belajar yg baik. Bagi yang suka ngoprek atau orang radio amatir, tracking satelit bisa jadi mainan yg menyenangkan. Bagi yang ingin belajar bahasa tertentu atau ingin menonton film drama tertentu yg belum disiarkan disini, amat bisa. Dan berbagai hal lainnya. Kl gw pribadi suka karena di salah satu satelit memiliki siaran Radio yg lengkap per kategori (seperti di Yahoo Launch Cast). Jadi bisa mendengarkan music Jazz, Classics, 90’s Big hits secara lebih nyaman. Dan tentunya kalau sedang bosan bisa lgs switch untuk menonton FashionTV hehe.

Artika Sari Devi

Tuesday, June 14th, 2005

Di beberapa infotainment seminggu terakhir ramai dibicarakan tentang kontroversi foto "bugil" Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2004, di ajang Miss Universe 2005 di Bangkok kemarin. Tak lepas sampai "pakar" Multimedia dan Foto2 panas Roy Suryo memberikan tanggapannya. Dalam kapasitasnya sebagai bekas fotografer dan "pakar" IT, dia menyatakan bahwa foto itu adalah asli (orisinalitasnya dan objectnya). Apakah benar?

Enda Nasution, langsung dari Bangkok, memberi informasi mengenai ini. Foto tersebut adalah BUKAN Artika Sari Devi. Foto itu diambil dari acara Miss Tiffany Universe 2005 alias Pattaya Ladyboy Transvestite alias Banci Show. Mudah2an ini bisa membantu memulihkan nama baik Artika Sari Devi.

Mo liat foto2 cantik banci Thailand? Let me present you: Miss Tiffany Universe 2005

Akankah GIE berbobot?

Wednesday, June 8th, 2005

Kemarin sore gw ngobrol dengan Damar. Dia menginformasikan film indonesia terbaru (yg bila dibuat secara bagus) akan cukup berbobot: GIE. Dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Wulan Guritno, film ini mengadaptasi dari catatan harian yg kemudian dibukukan dari Soe Hoek Gie yaitu Catatan Harian Seorang Demonstran. Soe Hoek Gie adalah aktifis pergerakan kemahasiswaan di tahun 1966, yg berbeda dng beberapa rekan sejawatnya yg "membelot" dan masih/telah menjabat di birokrasi pemerintahan, dia memilih untuk hidup idealis hingga akhir hidupnya yg singkat yaitu 27 tahun. Meninggal karena keracunan gas di lereng Semeru.

Bila diperhatikan sebulan terakhir ini, sebagai pembuka dari film nya yg akan launching bulan Juli nanti, buku Catatan Harian Seorang Demonstran ini bisa banyak ditemui di toko2 buku. Lucunya versi cetak baru dari buku ini, menggunakan foto Nicholas Saputra di cover depan buku tersebut. Mungkin pemilihan Nicholas untuk sampul buku dan juga pemeran utama, lebih dari aspek komersil. Sosialisasi film dan buku sejenis ini memang tidak mudah, dan dengan menggandeng Nicholas semoga remaja2 bisa diajak untuk mengerti dan memahami sejarah pergolakan kemahasiswaan pada tahun tersebut. Pergerakan yg masih murni untuk rakyat, masa dimana status Ketua Dewan Mahasiswa (DeMa) bisa punya kekuatan politis yg kuat. Sebuah komponen penyeimbang rakyat dari birokrasi pemerintahan kala itu.

Kalau gw boleh menilai, tokoh Soe Hoek Gie ini memang kurang bisa direfleksikan oleh Nicholas. Pertama dari sisi fisik dimana Gie adalah keturunan tionghoa dan berperawakan kecil dan yg kedua (ini sangat subjektif) walaupun Nicholas adalah mahasiswa UI (Arsitektur 2002 kl ngga salah), dia mungkin akan kesulitan untuk menghayati suasana pergolakan saat itu bila dibandingkan dengan suasana organisasi kemahasiswaan saat ini. Bila dia dapat berkonsultasi dgn senior2nya para tokoh kemahasiswaan pada pergerakan kemahasiswaan 1998, mungkin hasilnya akan lebih baik. Disini tantangan dari sutradaranya, Riri Reza untuk dapat mengarahkan para pemainnya. Film2 Riri telah teruji secara komersil melalui Petualangan Sherina dan secara Artistik melalui Eliana, Eliana (meraih penghargaan Young Cinema Award, Film Critical, dan Netpac Award di ajang Festival Film Singapura, beberapa waktu lalu), hingga bila dia berhasil meracik film ini secara baik mudah2an tujuan yg diinginkan bisa dicapai. Ambisi Riri mungkin seperti itu untuk film ini melihat dia sendiri yg menyutradarai dan menulis naskahnya.

Gw sendiri sudah melihat beberapa bagian dari film tersebut, dan yg harus gw point out itu kekurangan di nuansa kampus UI yg masih seperti jaman sekarang, serta apa perlunya adegan ciuman antara Nicholas dengan Wulan sebagai bumbu film ini (sekali lagi ini mungkin menurut Riri perlu secara komersil). Kita lihat saja peluncuran perdana film dari buku yg pernah menjadi pegangan wajib para pemimpin aksi gerakan mahasiswa 1998 ini bulan juli nanti. Apapun kritik nya nanti, salut untuk Riri Reza dan para pendukung kebangkitan perfilman indonesia.

Busy weeks

Wednesday, June 8th, 2005

Busy weeks. Udah banyak banget hal2 yg mengendap di kepala yg sebenarnya ingin dicurahkan ke fs selama 10 hari terakhir ini. Dari mulai ribut2 masalah vonis Corby n responds Australia (gw tertarik dgn artikel ini: Kasus Corby, Australia harusnya berkaca dgn kasus Chika Honda), terungkapnya Deep Throat yg sebenarnya (lihat apa itu DeepThroat dan setelah puluhan tahun terungkap), Pemenang film terbaik hongkong untuk 100 tahun terakhir ("Farewell My Concubine" most popular chinese film), StarWars III review (finally gw berhasil menontonnya setelah 2 minggu merencanakan), pikiran2 yg berkaitan dgn starwars itu, sampai tempat makan di kelapa gading.

Well, deep throat n corby mungkin sudah amat basi. Jadi nya Farewell my concubine lah yg akan dibicarakan. Ini termasuk film lama yg termasuk grade A buat keromantisannya. Di release tahun 93, dia sempat dapat penghargaan Palem Emas di festival Cannes. Di lain ke romantisannya, gw suka sama film2 yg ending nya secara realistis (tidak harus happy ending - satu hal yg mungkin mengesalkan untuk beberapa orang :)). Itu kenapa gw suka film romantis nya Ethan Hawke dan Julie Delpy: Before sunrise dan Before sunset yg alur nya alami (bisa saja terjadi dalam kehidupan kita - yeah, I wish .. hehe). Dan seperti halnya Before sunrise yg DVD versinya sudah mulai banyak yg beredar, gw berharap Farewell my concubine juga akan segera muncul DVD nya di indo (sampai sekarang gw belum pernah liat DVD nya. Dulu sih ada di Laser Disc). Dalam kaitannya dengan film2 romantis dan terbaik, Radio Cosmopolitan di acara Happy Hours nya selasa sore kemarin (lihat host bersuara merdunya: Irina Dewi) membawakan topik tentang film2 yg paling berkesan selama ini. Dan gw cukup senang bahwa banyak juga yg selera filmnya sama dgn gw :)

Star Wars III cukup memuaskan para fans nya. Didominasi dengan permainan special effect (konon George Lucas menyatakan salah satu alasan penting kenapa Hexalogi Star Wars dimulai dr episode IV, karena special effect yg dimiliki pada tahun itu - 1977 - belum cukup memadai utk memproduksi episode I - III. Terbukti seri2 I - III, sarat dengan special effect), jalan cerita cukup bisa membawa kita mengerti transformasi seorang Anakin menjadi Darth Vader. Gw kemarin membaca salah satu artikel di internet tentang 40 pertanyaan yg belum terjawab dari Star Wars I - VI (lupa euy link nya), hanya satu yg mengganggu gw utk episode III ini. Kalau tau Padme akan meninggal pada saat melahirkan, kenapa ngga mikir untuk Operasi Seksio Caesar saja? Di jaman, dgn kemampuan intergalactic pasti teknologi ini sudah ada. Jadi setelah pertama mendapat mimpinya, harusnya Anakin memilih dokter (atau Droid?) ObGyn yg bagus untuk Seksio. Untuk orang secerdas dan seteknikal anakin (sudah mampu membuat C3PO saat masih kecil. Nonton lagi: Star Wars I: The Phantom Menace) tidak mungkin dia tidak tahu hal seperti itu :)

Lalu apa setelah Hexalogi ini selesai? CNN membahas nya dari sisi tidak ada lagi film2 sci-fi yg cukup bermutu pada dekade baru ini (baca: You’ve seen ‘Star Wars.’ Now what?). Untuk para Sci-Fi fans (termasuk gw), juga dengan masuknya episode terakhir musim ini dari Star Trek: Enterprise, harus beralih kembali ke game-based atau menonton episode2 lama. Khusus untuk Star Wars, gw malah berharap (seperti halnya novel2 nya yg sudah banyak beredar) dibuat versi New Republic nya. Fasa setelah Rebel Alliance menang dari Empire. Perang dengan sisa Imperial Navy yg dipimpin oleh Grand Admiral Thrawn (mungkin Rebel Alliance tidak akan menang melawan Empire di perang terakhir Battle of Endor pada episode Return of the Jedi, bila Thrawn pada saat itu tidak sedang di mutasikan ke unknown region), dan yang terpenting adalah perang besar dengan ras penjajah: Yuuzhan Vong. Konflik yg bisa diceritakan akan cukup bagus untuk difilmkan. Mungkin bisa lebih historik dari konflik2 Sci Fi legendaris seperti untuk Star Trek (antara Federation dengan Borg) atau Babylon 5 (antara Interstellar Alliance dengan Shadows). Belum lagi sisi romantisnya, percintaan (hingga pernikahan) antara Han Solo dan Leia, atau Luke Skywalker dan Mara Jade. Well it’s just a thought :)