Kaya Vs Mapan
Wiken kemarin gw bertemu dgn beberapa teman2 dr masa sekolah dulu. Beberapa dr mereka yang kebetulan adalah wanita, mengangkat masalah yg sebenarnya adalah biasa dan wajar: minta dicarikan jodoh. Yang membuat gw tergelitik bahwa topik yg dibawakan di salah satu radio wanita minggu kemarin adalah sama dengan salah satu kriteria yg diinginkan oleh teman2 gue ini. Tak lain dan tak bukan adalah sudah mapan.
Gw sendiri tidak pernah tahu dari mana asal kata mapan ini mulai dipakai. Dan entah mengapa lebih suka digunakan dalam salah satu kriteria jodoh, dibandingkan kaya misalnya (bahkan kata Rich utk kaya dalam bahasa inggris jauh lebih populer dari pada wealth utk mapan, dalam diskusi materi). Awalnya gw pikir ini lebih kepada penggunaan bahasa yg lebih halus, karena tidak merujuk langsung kepada materi. Tapi ternyata faktanya tidak.
Secara sederhana, sebenarnya kita pribadi yg menentukan tingkat "kekayaan" menurut ekspektasi kita sendiri. Satu milliar rupiah, bila diinvestasikan secara baik (bukan benar2 baik) akan memberikan hasil 100 juta pertahun. Atau kurang lebih 10% dari asset yg dimiliki. Itu cukup, tapi bukan lah kaya. Ada orang2 yg menyatakan dirinya tidak ingin kaya, tetapi di lain pihak ingin untuk: Punya rumah di Kebayoran, Punya mobil BMW Seri terbaru, Tabungan > 500 juta, dan bisa sering jalan2 ke luar negeri. Bila dia sudah memiliki semua itu, bukankah "seharusnya" dia sudah bisa dikatakan kaya?
Menurut pakar dan ahli keuangan serta perencana keuangan dunia, orang kaya adalah orang yg memiliki asset banyak sekaligus utang yg banyak pula. Meski begitu, orang kaya seperti itu kerap tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Orang mapan berbeda, mereka mempunyai asset dan kekayaan yg cukup untuk memenuhi kebutuhan. Nilai assetnya boleh jadi lebih kecil daripada asset orang kaya, namun asset itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ada beberapa cara pendekatan untuk memperhitungkan nilai kekayaan hingga kita dapat diberi title kaya atau mapan. Cara pertama adalah dengan perhitungan dari penghasilan. Contoh, Si A berumur 30 tahun dengan gaji sebesar Rp. 10 Juta per bulan, minimum asset yg seharusnya dia miliki seharusnya adalah 360 Jt. Didapat dari rumus: gaji kotor per tahun, dikali jumlah umur, lalu dibagi 10 (120 jt x 30: 10).
Cara yg gw suka adalah cara kedua. Dengan melihat persentase kecukupan hasil investasi dari assset yg dimiliki untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Patokannya, orang dianggap berkecukupan kalau hasil investasi dari asset miliknya mencukupi 100%-200% dari pengeluaran bulanan. Misal asset yg dimiliki 1 Milliar yg diinvestasikan hingga mendapat hasil 10 jt/bulan, sedang pengeluarannya 5 jt/bulan. Maka orang ini sudah dianggap berkecukupan. Apabila asset orang itu memberikan hasil investasi sebesar 300%-400% dari kebutuhan bulanan, dia termasuk kaya. Dan yg ini paling menarik, orang itu baru bisa dianggap mapan kalau hasil investasi assetnya lebih dari 500% kebutuhan bulanannya.
Jelasnya begini, dengan patokan suku bunga bank saat ini sebesar 1% per bulan, seseorang dengan kebutuhan sebesar Rp 10 juta per bulan bisa dikatakan berkecukupan kalau memiliki asset dikisaran Rp 1 Milliar - Rp 2 Milliar. Jika assetnya mencapai Rp 3 Milliar sampai Rp 4 Milliar, dia bisa disebut kaya. Nah, kalau assetnya sudah diatas Rp 5 Milliar, baru dia pantas menyandang sebutan mapan.
Sangat menarik bahwa orang2 yg mencari jodoh "seakan-akan" tahu bahwa pilihan mapan adalah pilihan yg terbaik
Sudah selesai menghitung? merasa tidak puas atau kecewa dengan pencapaian anda saat ini?
Sekali lagi bahwa tingkat kekayaan itu adalah penilaian dan kepuasan pribadi. Bila kita sudah merasa puas dengan hidup kita mungkin kemapanan itu sudah tercapai (tp bukan berarti terlena untuk menghadapi tantangan kedepan). Masih kecewa juga? Bagaimana bila mencoba mengukur tingkat kekayaan kita dibandingkan orang diseluruh dunia
Sudah merasa lebih kaya? nah… sekarang baca ini
Sumber: