Again
Di kantor lagi (untuk sekian kalinya) di kala wiken .. long wiken tepatnya (untuk menekankan dan menambah penderitaannya). Dan gw harus bekerja di saat orang2 pada bersenang. Padahal wiken harusnya itu makan enak, jalan-jalan, nonton DVD atau nonton seharian. Entah makanan baru apa yg sudah ada di luar sana. Si damar sepertinya baru ber-kuli-wisata, dan memberi update tempat2 makan baru. Tahu potong di arteri pondok indah dengan kuah gulai? wah sepertinya fatty sekali. Cocok untuk makanan akhir pekan!
Well, apa karena memang keseringan long wiken yah makanya nih kantor makin terasa seram. Indra baru bangun n cerita dia ngga tidur semalaman karena merasa melihat bayangan2 berkelebat. Gw sih sebenarnya sudah teramat sering melihat penampakan yg sama. Hanya selalu official denial, karena bila otak sudah mengiyakan kan nanti panca indra akan menangkap secara langsung haha. Jangan sampai kayak si Ime yang udah ngeliat langsung si Ju Oh itu. Hihi sorry yah me.
Kalau dipikir2, rasa takut sama yg namanya dunia gaib itu akibat didikan konservatif kepada anak2 kecil yg lugu. Yah dr cerita orang, dr tontonan, sampe dr teman sendiri. Entah mengapa marketing strategies yg demikian apik sehingga tetap bisa ditakuti dr dulu sampe sekarang. Gw ingat banget film horror pertama gw itu film sundel bolong. Dan cukup membekas karena dari 1.5 jam film kok yang teringat yah bagian2 yg paling serem waktu itu (nakutin tukang bakso, makan bakso yg langsung keluar dari punggung). Kalau dipikir2 sekarang, apa seramnya adegan itu. Tapi entah mengapa mungkin secara psikologis, event itu sudah membuat entah itu luka atau endapan memory yg permanen. Well mungkin gw harus berdiskusi dgn anak psikologi utk yg satu ini. Yang jelas horror jepang, korean n indo memang paling ok untuk membuat gw sering nengok kiri dan kanan kl lagi di kantor sampe jam 2 malam hehe
Baru liat ada iklan film 30 hari mencari cinta di SCTV. Kayaknya nih film laku banget sih, udah diputar 3 kali di tv. Padahal kayak banyak dhe film indo bertema cinta lain yang bagus. Mungkin karena yg main ce2 nya cakep2 yah n ceritanya simple. Primetime lho, berarti kan slot iklannya jaminan penuh tuh. Film buatannya mahasiswa indo di aussy (curtin university kl ngga salah), itu kok ngga pernah kelihatan beritanya, padahal udah lama. Judulnya Pelangi di atas Prahara. Jadi kl pada ngikutin kisah Bandung Lautan Asmara yg VCD-nya dulu menghebohkan itu dengan tokohnya nanda. Nah ceritanya film ini tuh tentang si nanda itu, pasca kejadian VCD. Jadi si doi kuliah di australia, begin her new life dan menghadapi tantangan dr masa lalunya itu. Entah ini fiksi semata atau memang kisah nyata, gw respek n angkat topi tuh sama hasil kerja filmnya. Sinematografi nya profesional, castingnya bagus n dr jalannya cerita sepertinya script n naskah disusun secara professional. Walaupun awalnya nonton karena di bungkus film itu ada komentar Dian Sastro ttg film itu "Kayaknya ada dhe, film indonesia yg bagus juga …" n seperti diketahui bahwa komentar Dian Sastro is our command, langsung ditonton hahaha.
Ngomong2 cinta, gw juga baca tadi pagi tentang liputan kompas tentang sayembara cinta ala Joe Millionaire. Cukup menarik artikel pojok kanan depan kompas minggu, kritisasi dan aktualisasinya ttg yg lagi hangat di masyarakat. Beberapa minggu yg gw anggap menarik juga ttg acara ladies on top, acara khusus ce yg di hardrock cafe saban rabu itu. Well mungkin harus pada baca dhe, gw lg tidak ingin berkomentar khusus untuk itu. Gw malah tertarik di bagian tentang "colonialized mind", pikiran yang terjajah karena menganggap laki-laki bertampang bule sebagai yang paling hebat, dan, karenanya, diperebutkan. Dan entah kebetulan atau tidak di kolom konsultasi Leila Ch Budiman (salah satu bagian favourite gw juga di kompas minggu) hal ini dibahas. Seperti halnya di negara2 lain yg dijajah oleh eropa, entah kenapa pemuda2 bule punya nilai plus oleh wanita2 di negara tersebut. Pernyataan gw ini tentu akan mengundang komentar dr teman2 ce gw yg fanatik dng co2 bule, "ah elo sirik ajah, kan emang mereka ganteng2", "Mereka kan lebih dewasa dan bertanggungjawab daripada co2 disini", dan berbagai celaan serta komentar lain yg harus gw terima. Well, ok lha. Semua orang punya hak untuk memilih pasangannya, entah itu bule ataupun tidak. Tapi itu bukan suatu alasan untuk menganggap bahwa bule itu akan selalu "lebih" dan "sempurna" hingga mendapatkan mereka itu menjadi suatu role model yg diimpikan. Beberapa bule yg gw kenal terang2an bilang bahwa banyak juga teman mereka yg notabene warga negara kelas 2 di negaranya, lebih memilih untuk bermigrasi di negara2 semacam indonesia. Disini mereka dihargai sebagai warga negara kelas 0 (udah bukan kelas 1), highly paid dan berbagai keistimewaan lainnya.
Menanggapi pernikahan dgn bule, Bu Leila di kolomnya cukup bijak dengan memberikan fakta (tanpa melibatkan subjektifitas seperti gw ini hehe) bahwa "Di sekitar saya, di Negara kangguru, saya kenal beberapa pasangan Indonesia dan bule. Dari lima belas pasangan campur itu saya kenal baik, ada beberapa yang sangat bahagia dengan pasangan bulenya. Ada tujuh pasangan yang bermasalah berat, dan lima diantara tujuh ini sudah bercerai. Jadi, hampir separuh perkawinan campur mereka bermasalah berat. Yang berbahagia disebabkan kepribadian pasangan bulenya sangat baik. Dapat menghargai pasangannya, dapat bekerja sama, dan tolong menolong… Yg tidak bahagia, ada sebab suami bulenya pemabuk dan pemarah, ada yang sebab tidak bertanggung jawab dan mempunyai beberapa pacar lain." So it’s all about people. Gw ngga ngomong co indo ngga ada yg pemabuk dan pemarah, atau semuanya bertanggung jawab. But at least semuanya dinilai dari isinya dan diperlakukan secara adil.
Kalau gw pikir ulang, sentimen gw lg maksimum minggu ini karena gw mendengarkan cerita yg sama untuk kedua kalinya minggu ini. Alkisah rekan kerja gw bekerja di perusahaan yg penghargaan (baca: gaji) berdasarkan atas tingkat pendidikan. Jadi yg S1 gajinya sekian, yg D3 sekian dan seterusnya. Pada suatu saat ada posisi di dept. IT (information technology gitu lho..) yg menuntut skills dan kemampuan kerja tertentu, dgn requirement S1. Di dept. itu ada anak D3 dengan kemampuan yg luar biasa, yg akan bekerja baik pada posisi tsb. Anak tersebut di promosikan disana dengan gaji baru. Entah mulai dari mana, omongan sana sini melibatkan orang2 yg tidak puas atas penunjukan tsb. Dan seperti halnya demo2 di jakarta yg ada backing dibelakangnya, akhirnya pegawai2 protes. Sang anak ini terpaksa di kembalikan ke posisi semula. Dan cerita ini akhirnya berakhir gimana?? … perusahaan ini menggaji bule yg gaji nya > 10 kali gaji sebelumnya, dengan kemampuan yg minus. Most pekerjaan akhirnya juga dikerjakan oleh anak itu. Dan anehnya tidak ada yg protes tuh… Sepertinya memang indonesia dijajah selama 350 tahun itu bukan karena tidak bisa perang melawan penjajah, tapi memang mental orang terjajah sudah demikian melekat di hati orang2 nya (well gw mo cerita panjang lebar ttg kaitannya dgn budaya Jawa yg konservatif itu - gw orang jawa lho - tp kepanjangan. Mending baca buku Pramoedya ajah "Bumi Manusia" cukup jelas tuh)
Time to sign off … cek&ricek time …